Yap, seperti yang kita ketahui beberapa waktu lalu, dua wakil terakhir dari Amerika Selatan atau konfederasinya lebih dikenal dengan CONMEBOL yakni Brazil dan Uruguay telah tersingkir di babak perempat final Piala Dunia 2018, setelah kalah dari wakil-wakil Eropa, yaitu Prancis dan Belgia. Uruguay dan Brazil, menyusul wakil Conmebol lainnya yang sudah pulang kampung terlebih dahulu, seperti Argentina dan Kolombia yang rontok diperdelapan final, dan Peru yang pulang paling awal setelah tersingkir di penyisihan grup.
Hal ini seakan semakin memantapkan dugaan mulai tertinggalnya sepakbola Amerika Selatan dari Eropa. Setidaknya itulah yang terlihat di beberapa kompetisi sepakbola yang mempertemukan wakil-wakil Eropa dan Amerika Selatan, seperti Piala Dunia, Kejuaraan Antar Klub, dan lain-lain.
Kita mulai dari Piala Dunia senior, sempat berkejar-kejaran jumlah gelar juara sejak 1930-2006 antara Amerika Selatan dengan Eropa, dimana kedua wilayah masing-masing telah memenangi 9 Piala Dunia. Tapi, sejak keberhasilan Brazil meraih gelar juara dunia di 2002 dan sekaligus menjadi gelar kelima mereka atau kesembilan untuk wakil Amerika Selatan, setelah itu belum pernah lagi wakil Amerika Selatan berhasil meraih juara dunia lagi hingga sekarang. Dimulai dari 2006 dimana Italia berhasil meraih juara dunia mereka untuk yang keempat kalinya, Disusul Spanyol di 2010, dan terakhir Jerman di 2014. Hal itu membuat skor persaingan perolehan gelar juara dunia antara Amerika Selatan dengan Eropa menjadi 9-11 untuk keunggulan Eropa. Dan dengan bergugurannya wakil Amerika Selatan di Piala Dunia kali ini bahkan sebelum semi final digelar. Sudah bisa dipastikan bahwa jarak antara Eropa dan Amerika Selatan semakin melebar menjadi 12-9.
Lalu, bagaimana dengan usia muda? Di Piala Dunia U-20 misalnya? Memang, secara total Amerika Selatan masih unggul dengan 11 gelar berbanding 9 gelar dengan wakil Eropa. Akan tetapi, mari kita lihat. Terakhir kali wakil Amerika Selatan berhasil meraih juara Piala Dunia U-20, adalah Brazil di tahun 2011. Berikutnya, secara beruntun dimenangi wakil-wakil Eropa dengan rincian, 2013 diraih Prancis, 2015 Serbia dan terakhir 2017 diraih Inggris. Jika tidak waspada, bukan tidak mungkin cepat atau lambat wakil-wakil Eropa akan melewati perolehan total gelar juara dunia U-20 Amerika Selatan.
Bagaimana dengan Piala Dunia U-17? Ternyata lebih parah lagi, mereka hanya meraih 3 gelar, itupun hanya diwakili oleh Brazil, dan bahkan terakhir kali mereka menjadi juara adalah tahun 2003. Sementara Eropa meraih 4 gelar juara, termasuk pagelaran terakhir tahun 2017 dimana dimenangi oleh Inggris. Memang gelar mereka masih kalah dari wakil-wakil Afrika yang berhasil meraih 7 gelar juara dunia di U-17, dengan masing-masing dimenangi oleh Nigeria sebanyak 5x, dan Ghana 2x. Tapi, mari kita lewati hal itu dan fokus pada persaingan Eropa dan Amerika Selatan.
Lanjut ke Piala Konfederasi dan Olimpiade, bagaimanakah hasil yang diraih oleh wakil Amerika Selatan dengan Eropa? Untuk Piala Konfederasi, memang Amerika Selatan masih sedikit unggul dengan skor perolehan gelar adalah 5-4. Tapi melihat perkembangan terakhir dimana tahun 2017 Jerman berhasil memenanginya, bukan tak mungkin kedepan Eropa akan melewati mereka. Sedangkan di Olimpiade, Amerika Selatan tertinggal jauh dari Eropa. Dimana wakil Amerika Selatan hanya bisa meraih 5 medali emas. Sementara Eropa unggul jauh dengan 19 emas. Hal yang mungkin masih bisa dibanggakan oleh Amerika Selatan di Olimpiade adalah fakta kalo mereka berhasil meraih 3 emas dari 4 penyelenggaraan Olimpiade terakhir. Sementara Eropa terakhir kali wakilnya meraih medali emas Olimpiade untuk cabang sepakbola yaitu pada tahun 1992, dengan Spanyol sebagai juaranya. Dan sebagai tambahan, di Youth Olympic (Olimpiade untuk atlet-atlet muda yang baru digelar 2x, dimulai tahun 2010 kemarin), dari 2 gelaran tahun 2010 dan 2014. Amerika Selatan berhasil menyapu bersih dengan Bolivia dan Peru yang masing-masing berhasil meraih medali emas di tahun 2010 dan 2014.
Bagaimana dengan kejuaraan antarklub? Dulu saat masih berformat Piala Interkontinental yang hanya mempertemukan wakil Amerika Selatan dengan Eropa saja (Atau lebih dikenal dengan Piala Toyota). Wakil Amerika Selatan unggul tipis dengan 22-21. Tapi, setelah formatnya berubah dan mempertemukan wakil-wakil dari semua konfederasi FIFA yang lain. Hasilnya wakil-wakil Amerika Selatan lebih sering takluk dari wakil Eropa. Bahkan dalam beberapa kali gelaran, wakil Amerika Selatan gagal masuk final setelah kalah dari wakil Afrika dan bahkan Asia. Padahal dalam 3 gelaran awal, wakil-wakil Amerika Selatan berhasil menyapu gelar juara. 3 gelar itu diraih saat mereka diwakili oleh klub-klub Brazil, diawali tahun 2000 yang merupakan gelaran pertama, berhasil dimenangi oleh Corinthians. Kemudian, setelah sempat vakum beberapa tahun, kejuaraan ini dimulai lagi tahun 2005 dengan Sao Paulo berhasil meraih juaranya. Dan di tahun 2006, giliran klub Brazil lainnya, yakni Internacional yang berhasil merebut gelar. Tapi setelah itu, mulai tahun 2007 praktis wakil-wakil Eropa yang berjaya. Hanya di tahun 2012, wakil Amerika Selatan yang saat itu diwakili klub Brazil Corinthians, berhasil kembali meraih juara dunia antarklub. Selebihnya, dari 2007-2011 dan 2013-2017 gelar juara dikuasai wakil-wakil Eropa.
Bagaimana dengan sektor sepakbola wanita? Lebih baik tidak perlu kita bahas, karena wakil-wakil Amerika Selatan belum pernah ada yang berhasil meraih juara di hampir semua kejuaraan sepakbola wanita, baik Piala Dunia Wanita, ataupun Piala Dunia Wanita untuk U-20 dan U-17, bahkan di Olimpiade senior juga. Hanya di Youth Olympic Games tahun 2010 saja, wakil Amerika Selatan berhasil berjaya di kejuaraan sepakbola putri, dengan Chili yang berhasil meraih emas.
Dan dengan rontoknya wakil-wakil Amerika Selatan di Piala Dunia kali ini, apakah bisa kita bilang kalau sepakbola Amerika Selatan mulai tertinggal dari Eropa? Dan apakah penyebabnya? Yang jelas, tim-tim Amerika Selatan harus segera berbenah dan menyadari hal ini. Kalau tidak mau semakin tertinggal dari Eropa dan bahkan bukan tidak mungkin akan disusul oleh wakil-wakil Afrika, Amerika Tengah dan Utara (Concacaf) atau bahkan Asia.
Efek terlalu cepat mutusin main di Eropa saat usia belum matang. Jadi gaya main ciri khas Amerika Latin hilang, dan berefek ke performa timnasnya.
BalasHapusBisa jadi gan.
HapusSepakbola modern tak bisa hanya mengandalkan bakat alam Amerika Selatan harus berubah kalo gak mau makin tertinggal. Dibawahnya Messi, Neymar, Suarez n Cavani dkk. Gk ada lagi ini bintang2 muda Amerika Selatan yg mencolok kayaknya.
BalasHapusPerlu pembenahan menyeluruh ya?
HapusCuma Brazil kyaknya yg sepakbola wanitanya agak mendingan.
BalasHapusIya, pernah beberapa kali hampir juara dunia.
HapusUruguay kayaknya satu2nya wakil Conmebol yg masih bisa bersaing dgn Eropa. Brazil ma Argentina kayaknya bentar lagi habis.
BalasHapusGk tau juga ya? Dibawah Cavani n Suarez kayaknya blm ada yg mencolok Uruguay.
Hapus