Senin, 30 Juli 2018

Daftar Juara Piala Dunia Sepakbola U-20 Pria Sepanjang Sejarah

Awalnya, kejuaraan ini bernama FIFA World Youth Championship dari tahun 1977-2005. Selanjutnya, mulai tahun 2007-sekarang namanya berubah jadi FIFA U-20 World Cup. Berikut daftar juaranya:

- FIFA WORLD YOUTH CHAMPIONSHIP

1977:
Tuan Rumah: Tunisia
Juara:
1. Uni Soviet
2. Meksiko
3. Brazil
4. Uruguay

Penghargaan:
- Top Skor: Aguinaldo "Guina" Roberto Gallon (Brazil) (4 Goal)
- Pemain Terbaik: Volodymyr Vasylyovych Bezsonov (Uni Soviet)
- Tim Fair Play: Brazil

1979:
Tuan Rumah: Jepang
Juara:
1. Argentina
2. Uni Soviet
3. Uruguay
4. Polandia

Penghargaan:
- Top Skor: Ramón Ángel Díaz (Argentina) (8 Goal)
- Pemain Terbaik: Diego Armando Maradona (Argentina)
- Tim Fair Play: Polandia

1981:
Tuan Rumah: Australia
Juara:
1. Jerman Barat
2. Qatar
3. Rumania
4. Inggris

Penghargaan:
- Top Skor: Ralf Loose, Roland Wohlfarth (Jerman Barat), Amer Taher Abouzaid  Sayed (Mesir) & Mark Koussas (Australia) (4 Goal)
- Pemain Terbaik: Romulus Gabor (Rumania)
- Tim Fair Play: Australia

1983:
Tuan Rumah: Meksiko
Juara:
1. Brazil
2. Argentina
3. Polandia
4. Korea Selatan

Penghargaan:
- Top Skor: Geovani Faria da Silva (Brazil) (6 Goal)
- Pemain Terbaik: Geovani Faria da Silva (Brazil)
- Tim Fair Play: Korea Selatan

1985:
Tuan Rumah: Uni Soviet
Juara:
1. Brazil
2. Spanyol
3. Nigeria
4. Uni Soviet

Penghargaan:
- Top Skor: Gérson da Silva, Balalo Luiz Carlos da Silva Maciel, Luís Antônio Corrêa da Costa "Muller" (Brazil), Sebastián Losada Bestard, Fernando Gómez Colomer (Spanyol), Monday Odiaka (Nigeria) & Alberto García Aspe Mena (Meksiko) (3 Goal)
- Pemain Terbaik: Paulo Silas do Prado Pereira (Brazil)
- Tim Fair Play: Kolombia

1987:
Tuan Rumah: Chili
Juara:
1. Yugoslavia
2. Jerman Barat
3. Jerman Timur
4. Chili

Penghargaan:
- Top Skor: Marcel Witeczek (Jerman Barat) (7 Goal)
- Pemain Terbaik: Robert Prosinečki (Yugoslavia)
- Tim Fair Play: Jerman Timur

1989:
Tuan Rumah: Saudi Arabia
Juara:
1. Portugal
2. Nigeria
3. Brazil
4. Amerika Serikat

Penghargaan:
- Top Skor: Oleg Anatolyevich Salenko (Uni Soviet) (5 Goal)
- Pemain Terbaik: Bismarck Barreto Faria (Brazil)
- Tim Fair Play: Amerika Serikat

1991:
Tuan Rumah: Portugal
Juara:
1. Portugal
2. Brazil
3. Uni Soviet
4. Australia

Penghargaan:
- Top Skor: Serhiy Hennadiovych Scherbakov (Uni Soviet) (5 Goal)
- Pemain Terbaik: Emílio Manuel Delgado Peixe (Portugal)
- Tim Fair Play: Uni Soviet

1993:
Tuan Rumah: Australia
Juara:
1. Brazil
2. Ghana
3. Inggris
4. Australia

Penghargaan:
- Top Skor: Giancarlo "Gian" Dias Dantas, Adriano Gerlin da Silva (Brazil), Ante Miličić (Australia) Vicente Nieto (Meksiko), Chris Faklaris (USA), Henry Zambrano Sandoval (Kolombia) & Augustine Ahinful (Ghana) (3 Goal)
- Pemain Terbaik: Adriano Gerlin dan Silva (Brazil)
- Tim Fair Play: Inggris

1995:
Tuan Rumah: Qatar
Juara:
1. Argentina
2. Brazil
3. Portugal
4. Spanyol

Penghargaan:
- Top Skor: Joseba Andoni Etxeberria Lizardi (Spanyol) (7 Goal)
- Pemain Terbaik: Caio Ribeiro Decoussau (Brazil)
- Tim Fair Play: Jepang

1997:
Tuan Rumah: Malaysia
Juara:
1. Argentina
2. Uruguay
3. Republik Irlandia
4. Ghana

Penghargaan:
- Top Skor: Adaílton Martins Bolzan (Brazil) (10 Goal)
- Pemain Terbaik: Andrés Nicolás Olivera (Uruguay)
- Tim Fair Play: Argentina

1999:
Tuan Rumah: Nigeria
Juara:
1. Spanyol
2. Jepang
3. Mali
4. Uruguay

Penghargaan:
- Top Skor: Pablo González Couñago (Spanyol) & Mahamadou Dissa (Mali) (5 Goal)
- Pemain Terbaik: Seydou Keita (Mali)
- Tim Fair Play: Kroasia

2001:
Tuan Rumah: Argentina
Juara:
1. Argentina
2. Ghana
3. Mesir
4. Paraguay

Penghargaan:
- Top Skor: Javier Pedro Saviola Fernández (Argentina) (11 Goal)
- Pemain Terbaik: Javier Pedro Saviola Fernández (Argentina)
- Tim Fair Play: Argentina

2003:
Tuan Rumah: Uni Emirat Arab
Juara:
1. Brazil
2. Spanyol
3. Kolombia
4. Argentina

Penghargaan:
- Top Skor: Alessandro Silva de Sousa "Dudu" (Brazil), Fernando Ezequiel Cavenaghi (Argentina), Edward "Eddie" Abraham Johnson (USA) & Daisuke Sakata (Jepang) (4 Goal)
- Pemain Terbaik: Ismail Matar Ibrahim Khamis Al Mukhaini Al Junaibi (UEA)
- Tim Fair Play: Kolombia

2005:
Tuan Rumah: Belanda
Juara:
1. Argentina
2. Nigeria
3. Brazil
4. Maroko

Penghargaan:
- Top Skor: Lionel Andrés Messi Cuccittini (Argentina) (6 Goal)
- Pemain Terbaik: Lionel Andrés Messi Cuccittini (Argentina)
- Tim Fair Play: Kolombia

- FIFA U-20 WORLD CUP

2007:
Tuan Rumah: Kanada
Juara:
1. Argentina
2. Republik Ceska
3. Chili
4. Austria

Penghargaan:
- Top Skor: Sergio Leonel "Kun" Agüero (Argentina) (6 Goal)
- Pemain Terbaik: Sergio Leonel "Kun" Agüero (Argentina)
- Tim Fair Play: Jepang

2009:
Tuan Rumah: Mesir
Juara:
1. Ghana
2. Brazil
3. Hungaria
4. Kosta Rika

Penghargaan:
- Top Skor: Dominic Adiyiah (Ghana) (8 Goal)
- Pemain Terbaik: Dominic Adiyiah (Ghana)
- Kiper Terbaik: Esteban Alvarado Brown (Kosta Rika)
- Tim Fair Play: Brazil

2011:
Tuan Rumah: Kolombia
Juara:
1. Brazil
2. Portugal
3. Meksiko
4. Prancis

Penghargaan:
- Top Skor: Henrique Almeida Caixeta Nascentes (Brazil), Alexandre Lacazette (Prancis) & Álvaro Vázquez García (Spanyol) (5 Goal)
- Pemain Terbaik: Henrique Almeida Caixeta Nascentes (Brazil)
- Kiper Terbaik: Michael "Mika" Simões Domingues (Portugal)
- Tim Fair Play: Nigeria

2013:
Tuan Rumah: Turki
Juara:
1. Prancis
2. Uruguay
3. Ghana
4. Irak

Penghargaan:
- Top Skor: Ebenezer Kofi Assifuah-Inkoom (Ghana) (6 Goal)
- Pemain Terbaik: Paul Labile Pogba (Prancis)
- Kiper Terbaik: Guillermo Rafael de Amores Ravelo (Uruguay)
- Tim Fair Play: Spanyol

2015:
Tuan Rumah: Selandia Baru
Juara:
1. Serbia
2. Brazil
3. Mali
4. Senegal

Penghargaan:
- Top Skor: Bence Mervó (Hungaria) & Viktor Viktorovych Kovalenko (Ukraina) (5 Goal)
- Pemain Terbaik: Adama Traoré (Mali)
- Kiper Terbaik: Predrag Rajković (Serbia)
- Tim Fair Play: Ukraina

2017:
Tuan Rumah: Korea Selatan
Juara:
1. Inggris
2. Venezuela
3. Italia
4. Uruguay

Penghargaan:
- Top Skor: Riccardo Orsolini (Italia) (5 Goal)
- Pemain Terbaik: Dominic Ayodele Solanke-Mitchell (Inggris)
- Kiper Terbaik: Frederick John Woodman (Inggris)
- Tim Fair Play: Meksiko

Kamis, 19 Juli 2018

DaftarJuara Piala Dunia Sepakbola Wanita Sepanjang Sejarah

1991:
Tuan Rumah: Republik Rakyat China
Juara:
1. Amerika Serikat
2. Norwegia
3. Swedia
4. Jerman

Penghargaan:
- Top Skor: Michelle Anne Akers-Stahl (USA) (10 Goal)
- Pemain Terbaik: Carin Leslie Jennings-Gabarra (USA)
- Tim Fair Play: Jerman

1995:
Tuan Rumah: Swedia
Juara:
1. Norwegia
2. Jerman
3. Amerika Serikat
4. Republik Rakyat China

Penghargaan:
- Top Skor: Ann Kristin "Anka" Aarønes (Norwegia) (6 Goal)
- Pemain Terbaik: Hege Riise (Norwegia)
- Tim Fair Play: Swedia

1999:
Tuan Rumah: Amerika Serikat
Juara:
1. Amerika Serikat
2. Republik Rakyat China
3. Brazil
4. Norwegia

Penghargaan:
- Top Skor: Sisleide "Sissi" do Amor Lima (Brazil) dan Sun Wen (RRC) (7 Goal)
- Pemain Terbaik: Sun Wen (RRC)
- Kiper Terbaik: Gao Hong (RRC) dan Briana Collette Scurry (USA)
- Tim Fair Play: Republik Rakyat China

2003:
Tuan Rumah: Amerika Serikat
Juara:
1. Jerman
2. Swedia
3. Amerika Serikat
4. Kanada

Penghargaan:
- Top Skor: Birgit Prinz (Jerman) (7 Goal)
- Pemain Terbaik: Birgit Prinz (Jerman)
- Kiper Terbaik: Silke Rottenberg (Jerman)
- Tim Fair Play: Republik Rakyat China

2007:
Tuan Rumah: Republik Rakyat China
Juara:
1. Jerman
2. Brazil
3. Amerika Serikat
4. Norwegia

Penghargaan:
- Top Skor: Marta Vieira da Silva (Brazil) (7 Goal)
- Pemain Terbaik: Marta Vieira da Silva (Brazil)
- Kiper Terbaik: Nadine Marejke Angerer (Jerman)
- Tim Fair Play: Norwegia

2011:
Tuan Rumah: Jerman
Juara:
1. Jepang
2. Amerika Serikat
3. Swedia
4. Prancis

Penghargaan:
- Top Skor: Homare Sawa (Jepang) (5 Goal)
- Pemain Terbaik: Homare Sawa (Jepang)
- Pemain Muda Terbaik: Caitlin Jade Foord (Australia)
- Kiper Terbaik: Hope Amelia Solo (USA)
- Tim Fair Play: Jepang

2015:
Tuan Rumah: Kanada
Juara:
1. Amerika Serikat
2. Jepang
3. Inggris
4. Jerman

Penghargaan:
- Top Skor: Carli Anne Lloyd (USA) dan Célia Okoyino da Mbabi Šašić (Jerman) (6 Goal)
- Pemain Terbaik: Carli Anne Lloyd (USA)
- Pemain Muda Terbaik: Kadeisha Buchanan (Kanada)
- Kiper Terbaik: Hope Amelia Solo (USA)
- Tim Fair Play: Prancis

Sabtu, 07 Juli 2018

Wakil Conmebol Rontok Sebelum Semi Final Piala Dunia 2018, Akhir Persaingan Panjang Eropa vs Amerika Selatan?

Yap, seperti yang kita ketahui beberapa waktu lalu, dua wakil terakhir dari Amerika Selatan atau konfederasinya lebih dikenal dengan CONMEBOL yakni Brazil dan Uruguay telah tersingkir di babak perempat final Piala Dunia 2018, setelah kalah dari wakil-wakil Eropa, yaitu Prancis dan Belgia. Uruguay dan Brazil, menyusul wakil Conmebol lainnya yang sudah pulang kampung terlebih dahulu, seperti Argentina dan Kolombia yang rontok diperdelapan final, dan Peru yang pulang paling awal setelah tersingkir di penyisihan grup.

Hal ini seakan semakin memantapkan dugaan mulai tertinggalnya sepakbola Amerika Selatan dari Eropa. Setidaknya itulah yang terlihat di beberapa kompetisi sepakbola yang mempertemukan wakil-wakil Eropa dan Amerika Selatan, seperti Piala Dunia, Kejuaraan Antar Klub, dan lain-lain.

Kita mulai dari Piala Dunia senior, sempat berkejar-kejaran jumlah gelar juara sejak 1930-2006 antara Amerika Selatan dengan Eropa, dimana kedua wilayah masing-masing telah memenangi 9 Piala Dunia. Tapi, sejak keberhasilan Brazil meraih gelar juara dunia di 2002 dan sekaligus menjadi gelar kelima mereka atau kesembilan untuk wakil Amerika Selatan, setelah itu belum pernah lagi wakil Amerika Selatan berhasil meraih juara dunia lagi hingga sekarang. Dimulai dari 2006 dimana Italia berhasil meraih juara dunia mereka untuk yang keempat kalinya, Disusul Spanyol di 2010, dan terakhir Jerman di 2014. Hal itu membuat skor persaingan perolehan gelar juara dunia antara Amerika Selatan dengan Eropa menjadi 9-11 untuk keunggulan Eropa. Dan dengan bergugurannya wakil Amerika Selatan di Piala Dunia kali ini bahkan sebelum semi final digelar. Sudah bisa dipastikan bahwa jarak antara Eropa dan Amerika Selatan semakin melebar menjadi 12-9.

Lalu, bagaimana dengan usia muda? Di Piala Dunia U-20 misalnya? Memang, secara total Amerika Selatan masih unggul dengan 11 gelar berbanding 9 gelar dengan wakil Eropa. Akan tetapi, mari kita lihat. Terakhir kali wakil Amerika Selatan berhasil meraih juara Piala Dunia U-20, adalah Brazil di tahun 2011. Berikutnya, secara beruntun dimenangi wakil-wakil Eropa dengan rincian, 2013 diraih Prancis, 2015 Serbia dan terakhir 2017 diraih Inggris. Jika tidak waspada, bukan tidak mungkin cepat atau lambat wakil-wakil Eropa akan melewati perolehan total gelar juara dunia U-20 Amerika Selatan.

Bagaimana dengan Piala Dunia U-17? Ternyata lebih parah lagi, mereka hanya meraih 3 gelar, itupun hanya diwakili oleh Brazil, dan bahkan terakhir kali mereka menjadi juara adalah tahun 2003. Sementara Eropa meraih 4 gelar juara, termasuk pagelaran terakhir tahun 2017 dimana dimenangi oleh Inggris. Memang gelar mereka masih kalah dari wakil-wakil Afrika yang berhasil meraih 7 gelar juara dunia di U-17, dengan masing-masing dimenangi oleh Nigeria sebanyak 5x, dan Ghana 2x. Tapi, mari kita lewati hal itu dan fokus pada persaingan Eropa dan Amerika Selatan.

Lanjut ke Piala Konfederasi dan Olimpiade, bagaimanakah hasil yang diraih oleh wakil Amerika Selatan dengan Eropa? Untuk Piala Konfederasi, memang Amerika Selatan masih sedikit unggul dengan skor perolehan gelar adalah 5-4. Tapi melihat perkembangan terakhir dimana tahun 2017 Jerman berhasil memenanginya, bukan tak mungkin kedepan Eropa akan melewati mereka. Sedangkan di Olimpiade, Amerika Selatan tertinggal jauh dari Eropa. Dimana wakil Amerika Selatan hanya bisa meraih 5 medali emas. Sementara Eropa unggul jauh dengan 19 emas. Hal yang mungkin masih bisa dibanggakan oleh Amerika Selatan di Olimpiade adalah fakta kalo mereka berhasil meraih 3 emas dari 4 penyelenggaraan Olimpiade terakhir. Sementara Eropa terakhir kali wakilnya meraih medali emas Olimpiade untuk cabang sepakbola yaitu pada tahun 1992, dengan Spanyol sebagai juaranya. Dan sebagai tambahan, di Youth Olympic (Olimpiade untuk atlet-atlet muda yang baru digelar 2x, dimulai tahun 2010 kemarin), dari 2 gelaran tahun 2010 dan 2014. Amerika Selatan berhasil menyapu bersih dengan Bolivia dan Peru yang masing-masing berhasil meraih medali emas di tahun 2010 dan 2014.

Bagaimana dengan kejuaraan antarklub? Dulu saat masih berformat Piala Interkontinental yang hanya mempertemukan wakil Amerika Selatan dengan Eropa saja (Atau lebih dikenal dengan Piala Toyota). Wakil Amerika Selatan unggul tipis dengan 22-21. Tapi, setelah formatnya berubah dan mempertemukan wakil-wakil dari semua konfederasi FIFA yang lain. Hasilnya wakil-wakil Amerika Selatan lebih sering takluk dari wakil Eropa. Bahkan dalam beberapa kali gelaran, wakil Amerika Selatan gagal masuk final setelah kalah dari wakil Afrika dan bahkan Asia. Padahal dalam 3 gelaran awal, wakil-wakil Amerika Selatan berhasil menyapu gelar juara. 3 gelar itu diraih saat mereka diwakili oleh klub-klub Brazil, diawali tahun 2000 yang merupakan gelaran pertama, berhasil dimenangi oleh Corinthians. Kemudian, setelah sempat vakum beberapa tahun, kejuaraan ini dimulai lagi tahun 2005 dengan Sao Paulo berhasil meraih juaranya. Dan di tahun 2006, giliran klub Brazil lainnya, yakni Internacional yang berhasil merebut gelar. Tapi setelah itu, mulai tahun 2007 praktis wakil-wakil Eropa yang berjaya. Hanya di tahun 2012, wakil Amerika Selatan yang saat itu diwakili klub Brazil Corinthians, berhasil kembali meraih juara dunia antarklub. Selebihnya, dari 2007-2011 dan 2013-2017 gelar juara dikuasai wakil-wakil Eropa.

Bagaimana dengan sektor sepakbola wanita? Lebih baik tidak perlu kita bahas, karena wakil-wakil Amerika Selatan belum pernah ada yang berhasil meraih juara di hampir semua kejuaraan sepakbola wanita, baik Piala Dunia Wanita, ataupun Piala Dunia Wanita untuk U-20 dan U-17, bahkan di Olimpiade senior juga. Hanya di Youth Olympic Games tahun 2010 saja, wakil Amerika Selatan berhasil berjaya di kejuaraan sepakbola putri, dengan Chili yang berhasil meraih emas.

Dan dengan rontoknya wakil-wakil Amerika Selatan di Piala Dunia kali ini, apakah bisa kita bilang kalau sepakbola Amerika Selatan mulai tertinggal dari Eropa? Dan apakah penyebabnya? Yang jelas, tim-tim Amerika Selatan harus segera berbenah dan menyadari hal ini.  Kalau tidak mau semakin tertinggal dari Eropa dan bahkan bukan tidak mungkin akan disusul oleh wakil-wakil Afrika, Amerika Tengah dan Utara (Concacaf) atau bahkan Asia.